Song Of The Day: The Staves – Silver Dagger

For I’ve been warned, and I’ve decided
To sleep alone all of my life.

Advertisements

[Resensi Buku] Modern Romance by Aziz Ansari

  • ISBN: 1594206279
  • Rilis: 2015
  • Halaman: 288
  • Penerbit: Penguin Press
  • Bahasa: Inggris

Some of our problems are unique to our time. “Why did this guy just text me an emoji of a pizza?” “Should I go out with this girl even though she listed Combos as one of her favorite snack foods? Combos?!” “My girlfriend just got a message from some dude named Nathan. Who’s Nathan? Did he just send her a photo of his penis? Should I check just to be sure?


Dapatkan buku ini di toko buku online Bukupedia

http://www.bukupedia.com/us/book/id-1594206279/modern-romance-hardcover.html


Review:

Aziz Ansari bekerja sama dengan sosiolog Eric Klinenberg, membahas dan menumpas tuntas permasalahan cinta di jaman modern ini. Lengkap dengan tabel statistik dan penelitian ilmiah sungguhan dan tentunya dikemas secara jenaka.

Online dating, masih tabu kah? Sebenarnya apa sih tujuan online dating dan bagaimana etika yang baik dalam melakukannya? Apakah cinta sejati memang ada, dan jika iya, bagaimana kita bisa menemukannya disaat kita selalu dijejalkan berbagai macam pilihan?

Semua hal itu dan lebih banyak hal lagi dibahas di buku ini dengan gaya khas Aziz Ansari (I dare you to read this book without reading it in his voice) dan semua data yang ada didalamnya juga hasil dari bantuan sosiolog, antropolog, psikolog, dan jurnalis profesional. Bahkan lengkap pake ada referensi tiap data diambil dari mana! Udah kayak skripsi pokoknya.

Kudos parah buat Aziz yang udah susah-susah bikin focus group (online dan di dunia nyata) dan ke Jepang, Perancis dan Argentina hanya untuk bikin buku komedi pertamanya dan untuk mencari sushi terbaik (dimana komedian lain hanya membukukan pengalaman sendiri atau bikin buku anak-anak 12 halaman).

Book Rate: 8.5/10

 

TV Series: Master Of None (2015)

Dev, a struggling actor in New York and a struggling entity in his own personal life.

Aziz Ansari yang tahun ini baru aja merilis buku pertamanya yang berjudul Modern Romance, sekarang bekerja sama dengan Netflix membuat serial tv yang temanya berputar di lingkup kehidupan modern dan percintaan.

Master Of None bagaikan kumpulan 10 mini indie rom-com movies dimana setiap akhir episode bikin gue mau keluar malem-malem, jalan ke monas, duduk ditengah jalannya terus ngeliatin langit. A.k.a bikin soppy banget.

Udah penulisannya bagus, topik-topiknya nyinggung racism dan feminism, castnya diverse banget, soundtracknya enak-enak lagi. Kalo gak yakin soundtracknya enak, gue kasih spoiler nih: Father John Misty muncul di salah satu episodenya. Seriusan. Gak bohong. Demi tuhan. Gue teriak.

Cinta mati sama serial ini pokoknya. Semoga dilanjutin ke season 2!

Series Rate: 10/10,

[Resensi] Dear Girls Above Me by Charlie McDowell

  • ISBN: 0307986330
  • Rilis: 2013
  • Halaman: 288
  • Penerbit: Three Rivers Press
  • Bahasa: Inggris

Based on the wildly popular Twitter feed Dear Girls Above Me, a roman à clef about how thinking like a couple of girls turned one single guy into a better man.


Dapatkan buku ini di toko buku online Bukupedia

http://www.bukupedia.com/us/book/id-0307986330/dear-girls-above-me-inspired-by-a-true-story-paperback.html


Sinopsis:

After being unceremoniously dumped by the girl he was certain was “the one,” Charlie realized his neighbors’ conversations were not only amusing, but also offered him access to a completely uncensored woman’s perspective on the world. From the importance of effectively Facebook-stalking potential girlfriends and effortlessly pulling off pastel, to learning when in the early stages of dating is too presumptuous to bring a condom and how to turn food poisoning into a dieting advantage, the girls get Charlie into trouble, but they also get him out of it—without ever having a clue of their impact on him.


Review:

Berawal dari tweets-nya tentang tetangga baru yang sangat berisik, Charlie McDowell akhirnya membukukan pengalaman-pengalaman aslinya dengan kedua perempuan (dan beberapa teman mereka) berumur 20-an yang tinggal diatas kamar apartemennya. Mulai dari ketidakpentingnya obrolan mereka, sampai beberapa nasihat yang dilontarkan oleh mereka dan diambil oleh Charlie.

Setiap bab di buku ini– no scratch that. Semua paragraf di buku ini membuat tertawa terbahak-bahak dan tidak ada bagian yang membuat pembaca menjadi bosan.

Book Rate: 10/10

The Wedding & Bebek Betutu (2015)

Terakhir kali gue nonton film Indonesia di bioskop itu nonton Laskar Pelangi. Dan post ini bakalan jadi pertama kalinya gue ngomongin film Indonesia disini. Karena WEBEK terlalu bagus untuk gak diomongin.

Plot: Pernikahan Bagas dan Lana terancam batal dikarenakan keduanya di blackmail seseorang dengan menggunakan bukti-bukti mereka “selingkuh”. The Crew -chef, bell boy, maid, front desk, and janitor- dari hotel tempat pernikahan tersebut dipanggil untuk menyelamatkan pernikahan Bagas dan Lana. Sebenernya kalo diliat dari jauh, plotnya kayak ecek-ecek komedi gak jelas biasa. Tapi kalo diliat lebih jelas lagi, semua karakter dan kejadian di film ini udah ada benang merahnya kesatu sama lain. Pelaku blackmailnya juga gak dikeluarin diakhir cerita kayak “nih pelakunya, bodo amat gak nyambung, ini kan komedi”.

Directing & Cinematography: Kagum parah sama Hilman Mutasi dan Yunus Pasolang. Semua scene gambarnya enak dimata. Tripod temen setia film ini. Dan banyak banget sinematografi yang sangat-sangat-sangattt mirip sama The Grand Budapest Hotel. Kayaknya sih emang dibikin sengaja Grand Budapest-esque ya, dan kalo pendengaran gue gak salah, bagian Beler ketauan ilang, musiknya tuh mirip banget sama soundtrack Grand Budapest yang ini.

Casting: Nothing will ever go wrong when all of Extravaganza cast is reuniting. Mulai dari Tora Sudiro sama Rony Dozer, dari TJ sampe Virnie Ismail, ada semua! Personally, menurut gue yang paling oke itu karakternya Tora, Edric Tjandra, sama Ronal. Tora disini jadi chefnya, dan jujur, penampilannya dia ngingetin gue sama chefnya Wet Hot American Summer, jadi gue suka, and really, ini Tora Sudiro, mau diapain aja juga lucu. Edric karakternya orang betawi yang terobsesi sama korea, gue suka karakternya karena dia jujur banget sama dirinya sendiri dan dia unik banget. Ronal jadi pemilik hotel sekaligus bapaknya Lana, karakter dia gue liat banyak terinspirasi dari ‘karakter’ yang dia pake buat tampil di acara tv ILK, ngomong sunda pake logat belanda dan ngomong singkatan pake logat belanda.

Gue paling suka film ini karena komedinya tuh komedi pinter. Dan biasanya satu bit langsung dilanjutin bit lainnya, jadi penonton juga diajak buat cekatan nangkep lawakannya. Ini gak terlalu spoiler tapi gue cuman bakal bilang, pada satu titik di film, ada anal joke yang dilanjutin sama masturbation joke dimana dua-duanya itu kayak subtext banget (Gue baru nyadar ada masturbation joke pas nonton kedua kalinya), dan gue bangga bisa nangkep keduanya.

Kemaren gue nemenin Nyokap yang emang ngefans sama castnya bukan nonbar WEBEK bareng castnya. Dan pas registrasi gue dikasih kartu mainan The Wedding and Bebek Betutu, dimana isinya bukan remi tapi karakter-karakter filmnya. Mainannya cuman main Joker (atau Blackmail kalo disitu tulisannya) sama Jujur Atau Bohong sih, tapi salut aja gitu sama tim promotionnya. Niat abis.

IMG-20151018-WA0000

Movie Rate: 9/10

The Wolfpack (2015)

Gila ya, gue udah nungguin ini dari awalan tahun gara-gara akhirnya! Akhirnya! AKHIRNYA! Ada documentary tentang anak-anak homeschooling yang dikekang di rumahnya dari kecil! (Did you mean: kehidupan gue.)

Dan……………………hasilnya gak semenjanjikan premisnya.

Premisnya: Adik-kakak keluarga Angulo (6 cowok, 1 cewek yang paling kecil) kira-kira udah 14 tahunan ‘dipenjara’ dirumahnya sendiri. Keluar rumah(apartemen) setahun paling banyak cuman 9 kali, pernah setahun gak pernah keluar sama sekali, pendidikannya homeschooling diajarin nyokapnya, dan satu-satunya pelarian mereka adalah dunia film.

Sutradara film ini baru ketemu mereka (yang cowok-cowok) pas mereka udah ‘membebaskan’ diri sendiri dari kekangan orang tuanya. Jadi isi filmnya lebih kayak wawancara dan reka ulang gimana mereka menghabiskan waktu luang mereka biasanya sambil diselingin video masa kecil mereka.

Hasilnya, membuka sisi pandang yang baru bahwa di abad ke-21 ini masih ada remaja yang bisa hidup kayak gitu, dan walaupun ini kasus yang sangat-sangat jarang, penonton bisa merelasikan diri dengan mereka lewat kesamaan cinta ke dunia perfilman.

Lucu dan seru di bagian mereka reka ulang film-film kesukaannya atau randomly quoting movie lines (made you wish you were in that squad), sedih dan mengharukan di bagian mereka ngomongin kehidupannya. Perbedaan yang sangat terlihat dari dua dunia yang mereka tinggali sejak kecil.

Tapiiiii, kekurangannya satu film adalah:

  • Kurangnya pemberian informasi. Misal, itu ada 6 adik-kakak yang sering disorot, dimana semuanya keliatan sama dengan rambut panjangnya, rasanya sih bakal bantu banget ya buat ngenalin satu-satu dulu diawalan film seenggaknya pake caption gitu lah.
  • Terlalu berpusat kepada Mukunda. Saudara yang lain dikasih kesempatan buat ngomong juga sih, tapi ya itu tadi, gaada ‘nametag’ jadi yang lain selain Mukunda kayak ngeblur jadi satu aja gitu, gak bisa dibedain. Padahal gue rasa bakal lebih oke kalo setiap anggota digali ceritanya menurut perspektif masing-masing dan dilanjutin gimana keadaan mereka setelah akhirnya bebas dari penjara rumahnya.
  • Biased. Satu film ini seakan-akan cuman ada buat mengacungkan jari ke ayah mereka. Dan bagian Ayahnya ngejelasin perspektif dia juga rasanya kayak apapun yg dia omongin itu gak penting karena beberapa closeup dicut terlalu cepat seakan biar gak ngelewatin batas durasi. Oke, perbuatan bokapnya itu sadis buat mental anak-anaknya, but let the man talk his own truth clearly and quietly and let the audiences decides their views.
  • Crystal Moselle, sutradaranya, gak kayak dia yang nuntun arah film ini. Jujur, mending credits buat Director dibagi dua sama Mukunda.

Meskipun begitu, gak terlalu mengecewakan sih. Gue tetep suka bagian mereka mengeluarkan sisi cinephile geek-nya, bagian mereka nunjukin kreatifitasnya, dan bagian mereka nunjuki sisi emosionalnya akan keadaan mereka 14 tahun terakhir. Dan, untuk percobaan pertama Crystal di kursi sutradara, not too shabby.

Movie Rate: 7.5/10