Makna Ganda Kata “Ibu” Sebagai Idealisasi Perempuan Pada Masa Orde Baru

Orba

Tulisan ini berawal dari Tugas UTS mata kuliah Pengantar Kajian Budaya dengan tema tulisan “Gender dan Bahasa dan perspektif budaya”. Karena sayang saya nulis sampai hampir 1000 kata (ya maaf masih pemula, baru segitu udah bangga) dan hanya dibaca oleh dosen kesayangan, jadi, ya.

Di dalam masyarakat sosial dengan budaya patriarki, sudah lumrah pasalnya jika kesejahteraan dan hak-hak wanita dikeduakan setelah laki-laki. Indonesia termasuk negara yang masih berbudaya patriarki hingga sekarang. Pihak laki-laki memiliki kekuasaan yang lebih besar dan peran yang lebih menentukan dalam berbagai proses sosial dibandingkan dengan perempuan, termasuk dalam pengambilan keputusan di sebuah keluarga, laki-laki dianggap lebih berwenang (Sugihastuti, Saptiawan, 2007 : 82).

Kebudayaan patriarki ini merupakan hasil dari proses berulang di mana sejak kecil perempuan diajarkan untuk menjadi lemah lembut sedangkan laki-laki diajarkan untuk menjadi gagah dan kuat. Konsep feminitas dan maskulinitas telah ditanamkan sejak lahir, dalam norma masyarakat Indonesia, gender harus sejalan lurus dengan jenis kelamin. Hal ini menyebabkan adanya stereotip bahwa perempuan merupakan kaum yang lemah, sedangkan laki-laki ialah kaum yang kuat (Sugihastuti, Saptiawan, 2007 : 83).

Pada masa Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto dengan kekuasaan totaliter dan berwatak patriarkal (Wieringa, 1999: xlvii) membuat peran perempuan dalam tatanan sosial semakin mengalami penurunan. Organisasi perempuan mengalami degradasi peran sejak ‘dikalahkan’nya Gerwani yang dituduh memiliki afiliasi dengan PKI dan dilambangkan sebagai perempuan komunis dengan penyimpangan perilaku seksual. Mereka dituduh menari setengah telanjang di depan para jenderal yang disiksa oleh anggota pria PKI dan setelah itu melakukan pesta seks. Sesungguhnya propaganda Orde Baru ini merupakan bentuk dari ketakutan mereka akan kaum intelektual di kalangan perempuan. Anggota Gerwani mayoritas adalah kaum pendidik, aktivis buruh dan tani. Mereka adalah perempuan-perempuan yang mandiri secara pemikiran, intelek, dan ekonomi.

Dalam teori patriarki, laki-laki dapat memiliki kekuasaan di atas perempuan karena inferioritas perempuan secara intelek dan ekonomi. Perempuan yang hanya dididik untuk macak, manak, dan masak tidak akan maju secara intelektual sehingga tidak dapat memiliki pendirian sendiri dan juga tidak memiliki hak ekonomi sehingga terpaksa harus bergantung pada ayah atau suaminya.

Pemerintahan Orde Baru yang patriarkal berusaha meredam kekuatan intelektual perempuan dengan menanamkan yang disebut Julia Suryakusuma sebagai ideologi Ibuisme. Ibuisme adalah doktrin patriarkis Orde Baru yang membatasi gerak perempuan di rumah saja tanpa memberi kekuatan sosial ataupun politik. Di satu sisi, panggilan “Ibu” seperti penghormatan tertinggi terhadap perempuan akan tetapi di sisi lain panggilan tersebut sebenarnya hanyalah suatu upaya untuk mengingatkan perempuan akan “kodrat”nya yang dikukuhkan dalam masyarakat sebagai seorang yang merawat dan menurut.

Istilah ibuisme sendiri lahir dari konsep housewifization yang dikemukakan oleh Maria Mies (1986: 110).

But I would like to point out that housewifization means the externa1ization, or ex-territorialization of costs which otherwise would have to be covered by the capitalists. This means women’s labour is considered a natural resource, freely available like air and water.

Sedangkan Julia Suryakusuma pada acara diskusi “Citra Dharma Wanita dalam Konstruksi Sosial” di Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki, Jakarta (06/10/2015) mengatakan bahwa “Ibuisme negara terjadi karena negara mengkonstruksikan perempuan sebagai pelaku pekerjaan domestik sehingga perempuan pada saat itu menjadi angkatan kerja kapitalisme yang tidak dibayar.” Dua hal tersebut senada dengan gerakan Feminisme Marxis, dominasi laki-laki atas perempuan merupakan produk dominasi modal atas buruh (Walby, 1990: 5). Contohnya di dalam keluarga patriarki di mana yang melakukan pekerjaan rumah adalah sang ibu atau anak perempuannya, mereka dijadikan buruh rumah tangga yang tidak diberi upah hanya karena peran perempuan dalam tatanan keluarga patriarkal.

 

Melalui Panca Dharma Wanita, Orde Baru seakan menetapkan bahwa kaum perempuan harus mengikuti budaya “ikut suami” (Surayakusuma, 2011: 17). Panca Dharma Wanita sangat membatasi dan mengatur perempuan, membuat perempuan hanya memiliki satu pandangan yaitu cara hidup domestik tanpa politik. Hal ini dapat dilihat dari isi Panca Dharma Wanita sendiri:

  1. Wanita sebagai pendamping yang setia.
  2. Wanita sebagai pengelola rumah tangga.
  3. Wanita sebagai pendidik dan penerus keturunan anak.
  4. Wanita sebagai pencari nafkah tambahan.
  5. Wanita sebagai warga Negara dan anggota masyarakat yang berguna.

Dari kelima poin tersebut, dapat terlihat jelas bahwa idealisasi perempuan pada masa Orde Baru adalah perempuan yang penurut dan perawat. Satu-satunya ayat di mana perempuan diperbolehkan memasuki sektor ekonomi adalah jika dan hanya jika hal tersebut untuk mencari nafkah tambahan.

Organisasi perempuan pada masa Orde Baru sangat berbeda dengan organisasi perempuan sebelumnya seperti Gerwani. Pada masa Orde Baru, organisasi perempuan yang ada pada saat itu berada dalam tubuh Kowani (Kongres Wanita Indonesia), tetapi hanya ada tiga organisasi besar yaitu Dharma Wanita, Dharma Pertiwi dan PKK. Dharma Wanita adalah organisasi istri pegawai negeri, Dharma Pertiwi adalah organisasi istri anggota militer, sementara PKK pada jaman itu lebih diurus oleh istri kepala daerah/desa. Dapat dilihat bahwa cengkraman pemerintah terhadap ketiga organisasi perempuan tersebut sangatlah kuat. Organisasi ini pun dijadikan instrumen oleh pemerintah untuk mengendalikan masyarakat agar mencapai tujuan negara.

Meskipun peran wanita pada masa orde baru dibatasi, beberapa wanita berhasil mencapai sektor ekonomi walaupun sebagian besar menjadi sekretaris, sebuah jabatan yang sesungguhnya juga bentuk patriarki. Akan tetapi, wanita karir pada masa Orde Baru harus menghadapi cobaan baru lagi, yaitu ekspektasi peran ganda. Walaupun kaum wanita ikut bekerja pada masa pembangunan, bukan berarti mereka dapat melupakan kodratnya sebagai seorang ibu yang akan melahirkan, menyusui, membimbing, dan mengarahkan putra-putrinya (Manus, dkk., 1993: 9).

Tuntutan peran ganda terhadap perempuan tentu tidak adil dikarenakan kaum pria tidak mendapatkan tuntutan untuk mengurus rumah dan keluarga selain mencari nafkah. Maka dari itu, doktrin ibuisme negara yang melekat pada perempuan masa Orde Baru membuat perempuan amat sangat tertekan secara ekonomi, di satu sisi jika mereka tidak bekerja maka mereka akan sangat bergantung pada suami atau ayah, sedangkan di sisi lain jika mereka bekerja maka mereka juga harus tetap mengurus rumah dan keluarga, menjadi ibu seperti biasa. Sebuah pisau dengan dua belati.

 

Referensi:

Manus, M., Ohorella, G., Sutjianingsih, S., Kuswiah, W., Wulandari, T., & Said, Y. (1993). Peranan Wanita Pada Masa Pembangunan. (Iskandar, Ed.). Jakart: Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional.

Mies, M. (1986). Patriarchy and Accumulation On A World Scale. Zed Books.

Sugihastuti, & Saptiawan, I. H. (2007). Gender dan Inferioritas Perempuan: Praktik Kritik Sastra Feminis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Suryakusuma, J. (2011). Ibuisme Negara. Jakarta: Komunitas Bambu.

Walby, S. (1990). Teorisasi Patriarki. (S. O. Pavitrasari, Ed.). Yogyakarta: Jalasutra.

Wolfman, B. R. (1989). Peran Kaum Wanita. Yogyakarta: Kanisius.

Advertisements

Gender dan Seksualitas dalam Literatur Perancis Abad ke-19

Gender dan Seksualitas dalam Literatur Perancis Abad XIX cover

Tulisan ini berawal dari tugas presentasi untuk mata kuliah Pengantar Kesusastraan Perancis di mana saya dibebaskan untuk memilih topiknya dan seperti manusia pada umumnya saya memilih topik Gender dan Seksualitas.

Jujur aja, gue gak milih topik ini dari awal karena gue pun gak tahu apakah di abad ke-19 sudah ada karya sastra yang menyangkut gender dan seksualitas di Perancis karena ciri khas abad tersebut adalah masa kejayaan romantisme dan penulis paling terkenal dari abad tersebut adalah Victor Hugo dengan Les Misérables yang tidak memiliki representasi seksualitas (walaupun ada sedikit menyangkut tentang gender yang akan saya bicarakan nanti), kecuali jika lo salah satu manusia yang memasangkan Valjean-Javert atau Marius-Enjolras.

Akan tetapi sebuah cahaya ilahi bernama gen(dot)lib(dot)rus(dot)ec menuntun gue hingga menemukan buku Tim Farrant (my lord and savior), An Introduction to Nineteenth-Century French Literature, yang membicarakan dari sejarah abad ke-19 hingga ke … karya literatur bertemakan gender dan seksualitas. Farrant deserves a special place in heaven.

Berbekalkan pengetahuan dasar dan beberapa judul karya literatur dari buku tersebut, gue memulai riset sendiri ke pelosok-pelosok internet hingga menemukan sebuah laman dengan interface yang sangat tahun >2008 (tetapi sangat berguna) juga membaca thesis seorang manusia karena sulit sekali mencari plot tentang suatu novel. Kesal.

Penulis perempuan di Perancis pada abad ke-19

Masyarakat paska revolusi 1789 walaupun dengan semboyan égalité yang sudah eksis masih belum menjajaki kesetaraan gender. Di dalam déclaration des droit de l’homme  sendiri tidak mengungkit apapun tentang perempuan, itu juga yang menyebabkan Olympe de Gouges menulis déclaration des droits des femmes. Perempuan masih belum memiliki suara dalam politik dan di bawah kekuasaan Napoléon, hak gugat cerai dihapuskan sehingga perempuan seakan dibuat menjadi ‘budak’ dalam rumah tangga.

Latar belakang keadaan tersebut yang melahirkan dua penulis perempuan paling berpengaruh di abad ke-19, yaitu George Sand (Aurore Dupin) dan Flora Tristan. Dua manusia ini sebenarnya mempunyai visi yang sama yaitu untuk perempuan tidak hanya menjadi ibu rumah tangga tok. Tapi seperti manusia pada umumnya, tentu ada perbedaan pendapat di antara mereka.

George Sand menyuarakan feminisme melalui cerita fiksi dengan menghadirkan karakter perempuan yang terdidik, pintar, tidak takut menyuarakan pikirannya, dan dikagumi oleh para pria dengan harapan representasi perempuan seperti ini lambat laun akan mengubah cara pandang masyarakat akan peran gender seorang perempuan dalam kehidupan sosial. Beliau tidak terlalu setuju dengan aktivis feminis seperti Flora Tristan yang terkesan terlalu ekstrim. Menurutnya, perempuan tidak dapat berkecimpung di dunia politik jika masih terkekang di rumah.

Flora Tristan adalah seorang aktivis yang menulis artikel koran dan buku tentang permasalahan perempuan dan kaum pekerja pada masa itu. Sama seperti Sand, ia juga pernah menikah dan meninggalkan pernikahannya tersebut, akan tetapi Tristan meninggalkan anaknya karena masalah ekonomi, sementara Sand yang berasal dari kaum borjuis tidak dapat mengerti alasan ekonominya tersebut sehingga menganggap Tristan sebagai epitome dari gambaran masyarakat tentang feminis yang menelantarkan keluarganya sendiri. Sementara Tristan sendiri melihat Sand seakan malu mengakui dirinya feminis karena, 1.) Sand memakai nama pena laki-laki (nama aslinya Aurore Dupin) 2.) Sand menyuarakan feminisme melalui fiksi, kedua hal tersebut dianggap Tristan sebagai cadar bagi Sand yang tidak berani menyuarakan feminisme secara langsung.

Representasi prostitusi dalam literatur abad ke-19

Prostitusi merupakan hal yang menarik baik dalam literatur ataupun dalam masyarakat sosial Perancis di abad ke-19. Perlu diketahui bahwa pada abad tersebut telah ada prostitusi perempuan dan laki-laki, akan tetapi fokus masyarakat lebih terarah kepada prostitut perempuan dikarenakan tujuan mereka adalah memuaskan hasrat ataupun nafsu para laki-laki yang dianggap normal. Prostitusi pada abad tersebut juga telah memerhatikan aspek kesehatan dan standard, bukan untuk keamanan pekerja seks itu sendiri, akan tetapi untuk melindungi pelanggan dari kemungkinan terjadinya pencurian, kekerasan, dan penyakit menular.

Prostitusi di Perancis pada abad ke-19 dibagi menjadi 3 kelas, Les Filles, La Lorette, dan La Courtisane. Les Filles adalah pekerja seks jalanan yang merupakan kelas terendah dalam sistem prostitusi. La Lorette adalah pekerja seks yang lebih tinggi dibanding Les Filles, mereka masih berawal menjajakan diri di jalanan akan tetapi selanjutnya mereka akan “melakukan pekerjaannya” di sebuah hotel. La Courtisane adalah kelas prostitusi tertinggi yang mana mereka adalah selingkuhan atau simpanan bagi para bangsawan, mereka terlihat seperti bangsawan sendirinya dan sering mendapatkan hadiah dari pelanggannya, kurang lebih seperti sugarbaby jaman sekarang.

Karakter prostitut yang paling terkenal adalah Fantine dari novel Les Misérables karya Victor Hugo. Digambarkan dalam cerita tersebut bahwa Fantine adalah seorang prostitut dalam kelas Les Filles yang digambarkan oleh Hugo sebagai wanita malang yang masih memiliki moral. Selanjutnya dalam buku Balzac berjudul Splendeurs et Misères des Courtisanes digambarkan seorang prostitut dalam kelas La Courtisane yang dimanjakan dan bersifat hedonis. Dua representasi prostitut dalam literatur ini juga tidak jauh dari latar belakang penulisnya sendiri, Victor Hugo yang berasal dari kaum kelas bawah cenderung “bermain” dengan Les Filles sedangkan Balzac yang berasal dari keluarga borjuis tentu hanya mengenal tipe La Courtisane yang hedonis.

Hermaphrodite, Homoseksualitas, Biseksualitas, dan Peran Gender

E e e sumpah ya susah anjir ngehubungin dan ngelompokin novel-novel yang ada gara-gara either pesannya terlalu subteks atau dia punya irisan temanya banyak jadi kayak aaaa mati lu.

Hermaphrodite adalah sebutan lain untuk Androgyny yang diambil dari buku Ovid berjudul Metamorphoses. Hermaphrodite dalam literatur perancis abad ke-19 sangat menitikberatkan pada aspek crossdressing. Pengecualian terdapat pada buku Balzac berjudul Seraphita yang menceritakan seorang hermaphrodite yang tidak membicarakan apakah dia seorang laki-laki atau perempuan, selain itu buku tersebut juga memiliki unsur biseksualitas dikarenakan “keindahan” Seraphita yang membuatnya baik menarik ataupun tertarik bagi pria dan wanita. Unsur-unsur hermaphrodite dan biseksualitas yang serupa juga dilontarkan secara subteks dalam puisi Gautier berjudul Contralto yang berada dalam buku kumpulan puisinya, émaux et camées. Hal yang senada juga ada dalam buku Gautier berjudul Mademoiselle de Maupin walaupun dalam hal ini ia memiliki unsur crossdressing juga selain unsur hermaphrodite dan biseksualitas.

Selain itu, Hermaphrodite dan crossdressing juga dapat dihubungkan dengan homoseksualitas, yang sebenarnya cukup menarik karena seorang tersebut baru tertarik terhadap lawan jenis setelah ia mengubah gendernya menjadi sama dengan lawan jenis tersebut. Hal ini dapat dilihat dari novel pertama di abad ke-19 yang memiliki karakter hermaphrodite yaitu Fragoletta: Paris et Naples en 1799 karya Latouche yang memiliki karakter utama seorang hermaphrodite yang tanpa diketahui oleh pengagumnya adalah seorang laki-laki dan sebenarnya memiliki ketertarikan terhadap perempuan (walaupun dirinya juga dalam penampilan seperti seorang perempuan) bukan terhadap laki-laki. Hal yang serupa namun tak sama terdengar dari novel Balzac berjudul Sarrasine yang sangat terpengaruh dengan Latouche. Unsur cinta segitiga dengan bumbu homoseksual dan androgyny adalah koentji.

Sementara salah satu dari lumayan banyak novel yang kontroversial adalah Monsieur Vénus karya Rachilde. Novel ini terbilang kontroversial pada jamannya dikarenakan penggambaran seks yang bordering on S&M dan juga terdapat unsur feminization of a man yang terjadi dalam hubungan sebuah pasangan. Raoule, seorang wanita kaya, mengubah pasangan kelas pekerjanya, Silvert, lama kelamaan menjadi lebih seperti wanita. Hal ini sangat memungkinkan disebabkan oleh perbedaan kelas di antara mereka dan juga digambarkan bahwa Silvert memiliki wajah yang tampak sangat feminin. Terjadi adanya pertukaran peran gender dalam cerita ini di mana sang perempuan lebih dominan dibanding sang lelaki yang feminin dan penurut.

Kesimpulan

Kayaknya kalo gue ngambil penjurusan Sastra bakal lancar skripsiannya. Aamiin. (Tapi aing mau budaya)

Daftar referensi biar kayak tulisan bener

Crahay, G. (2015). “ON AURAIT PENSÉ QUE LA NATURE S”ÉTAIT TROMPÉE EN LEUR DONNANT LEURS SEXES’: MASCULINE MALAISE, GENDER INDETERMINACY AND SEXUAL AMBIGUITY IN JULY MONARCHY NARRATIVES. Bangor University.

Kota, Mounica V. Ms. (2014). “Gender and Class Differences in 19th Century French Prostitution,”. Oglethorpe Journal of Undergraduate Research: Vol. 3: Iss. 1, Article 5.

Farrant, T. (2007). An Introduction to Nineteenth-Century French Literature. Bloomsbury Publishing.

Women Writers. (n.d.). Retrieved April 23, 2017, from http://www.mtholyoke.edu/courses/rschwart/hist255/at/writers.html