On Screen VS On Paper: Atonement

url

*elap air mata*┬áKali ini gue akan ngomongin tentang Atonement. Buku karya Ian McEwan(penghancur hati gue) yang di jadikan film oleh Joe Wright. Let’s talk about the book first!

Buku karya Ian McEwan ini dibuka dengan persiapan Briony, 13 tahun dan kepo, dengan pentasnya dalam rangka menyambut abangnya, Leon, kembali kerumah. Dan saat itu ada 3 sepupu Briony yang sedang ada dirumahnya, Lola, Jackson, dan Pierrot Quincey, karenan masalah keluarga mereka.

Dengan setting waktu tahun 1935-1940 — sebelum dan saat Perang Dunia Ke-2 — novel ini berhasil menguras air mata dan hati gue.

Dibumbui dengan benci-tapi-jadi-cinta kakak Briony, Cecilia, dan tukang kebun mereka, Robbie, dan kesalahpahaman antara seluruh karakter, novel ini bagaikan ditulis setan yang tugasnya bikin manusia nangis.

Pada tahun 2007, film Atonement yang dibuat oleh Joe Wright tampil dilayar tancep. And although the movie brings me tears too, there are several important (dan menguras air mata) scenes from the book that are not included in the film.

Di buku, diberikan keterangan sangat jelas bahwa Paul Marshal, teman Leon, adalah seorang pedofil dari salah satu bagian dimana Paul Marshal memimpikan adik-adiknya (Astaghfirullah mz) dan terbangun oleh suara Lola, Jackson, dan Pierrot Quincey.

DAN YANG PALING DISAYANGKAN ADALAH BAGIAN AKHIR. BAGIAN DIMANA BRIONY UDAH TUA. *ekhem* Jadi kalau di buku, bagian akhir dijelaskan bahwa Briony pergi ke suatu hotel untuk merayakan ulang tahunnya yang ke 75 or something, dan dalam perjalanan kesana dia bertemu, or rather, melihat Lola dan Paul Marshal yang sudah sama-sama tua dengannya, dijelaskan bahwa Lola masih terlihat sangat sehat sedangkan Paul Marshal sudah mulai harus dibopong jalannya. Dan seperti yang dijelaskan di filmnya juga, untuk mem-publish novel terakhirnya (yaitu tentang kehidupannya sendiri), Briony harus menunggu beberapa orang yang mempunyai peran penting dan kontroversial di novelnya tersebut, jadi ya Lola kapan kamu mau mati….

Dijelaskan dibukunya ketika acara ultahnya Briony, Pierrot datang bersama anak cucunya sedangkan Jackson sudah meninggal.  Dan cucu-cucu Quincey mementaskan The Trial of Arabella, sebuah play yang Briony tulis untuk kedatangan Leon jaman dulu tetapi tidak pernah jadi dipentaskan. DAN GIMANA GUE GAK NANGIS COBA YA ELAH MAKASIH PAK IAN MCEWAN.

So, yeah, if you want a nice angsty ride and cry a lot, you should read and/or see the movie and/or book.

The movie is starring: James McAvoy as Robbie, Keira Knightley as Cecilia, Saoirse Ronan as Briony, Juno Temple as Lola, and Benedict Cumberbatch as Paul Marshal.

Movie Rate: 9/10

Book Rate: 10/10

On Screen vs On Paper: The Help

The-Help-28

 

The Help, novel karya Kathryn Stockett yang telah dijadikan film layar lebar pada tahun 2011 ini patut diberi standing ovation.

Skeeter, 22 tahun, baru saja lulus sarjana ketika dia kembali ke kampung halamannya, Mississippi. Dia mungkin punya gelar, tapi dia hidup ditahun 1962 dan pada saat itu, bahkan wanita yang mempunyai gelar masih dipandang sebelah mata. Aibileen, seorang pembantu berkulit hitam yang diam-diam mempunyai bakat dalam menulis. Minny, teman Aibileen yang juga pembantu berkulit hitam dengan mulut yang ceplas ceplos. Mereka bertigalah yang menjadi tokoh utama novel dan film ini. Dan yang menguras air mata saya.

Seperti umumnya, ketika sebuah novel diadaptasi ke film berdurasi 2 jam, pasti banyak hal-hal kecil — tapi menyelekit di hati — yang tidak dimasukan. Intinya, gue nangis 5 kali ketika baca novelnya dan hanya nangis 2 kali ketika nonton filmnya. Jadi ya…. ya gitulah. gue gak cengeng kok.

Movie Rate: 8/10

Book Rate: 10/10