Mustang (2015)

Gue udah nunggu ini dari tahun kemaren. Bersama The Wolfpack di jajaran film tentang overprotective family, of course this movie is on my watch list.

Desas-desusnya dari awal sih ini kayak The Virgin Suicides karya tante Sofia Coppola, adik-kakak perempuan semua yang ‘dikurung’ dalam rumahnya sendiri. Gak salah sih. Emang mirip, bahkan lima bersaudara juga.

Bedanya, kalau The Virgin Suicides topiknya tentang, yha, suicides, kalau Mustang topiknya lebih luas lagi. Dari child marriage, basic misogyny, seksualitas, perkosaan, dan persoalan selaput dara. Tapi dua-duanya sama-sama nunjukin kalo ‘mengurung’ itu malah bikin jadi depresi dan tertekan sih. ya rabb tanganku gatel ingin curcol.

Mustang berlatar belakang di sebuah desa di Turki, diawali dengan 5 kakak beradik bermain di tepi pantai bersama teman-teman cowoknya, ternyata permainan mereka menjadi buah bibir tetangga dan sampai ke telinga nenek dan pamannya. Karena orang tua mereka telah lama meninggal, di bawah asuhan nenek dan pamannya, mereka tidak dibolehkan keluar rumah lagi, bahkan untuk bersekolah.

Buat gue sih ini jauh lebih keren dari The Virgin Suicides, karena emang hal ini sering terjadi dan masih terjadi di desa-desa di seluruh dunia. Dan Mustang benar-benar memperlihatkan betapa konyolnya perlakuan terhadap remaja-remaja perempuan ini.

Ada satu scene saat malam pertama salah satu dari lima bersaudara itu, orang tua pihak lelaki meminta seprainya untuk dicek bercak darah tanda selaput daranya telah robek. I mean, that’s just downright ridiculous. But it’s also true, orang-orang masih menghakimi wanita dari ada atau tidak ada selaput daranya.

Film ini juga menunjukan logika keluarga yang menikahkan anaknya di usia dini, di mata mereka, anak perempuan lebih baik cepat dinikahkan agar tidak beredar desas-desus anaknya bukan orang baik-baik, atau bahkan karena anaknya ketauan sudah bukan perawan lagi lalu harus cepat-cepat dinikahkan ke siapa pun yang mau. Anak perempuan masih diperlakukan seperti boneka yang gampang rusak dan tidak bisa berdiri sendiri.

Kalau The Wolfpack membuat gue rada kecewa, Mustang totally exceeds my expectations. Such a great and important movie that everyone should watch. Watch this, and keep in mind that this is actually still happening all around the world.

I’m so fucking mad and furious after I watched it huhuhu.

Movie Rate: 9/10

Advertisements

A Copy Of My Mind (2015? 2016?)

poster-a-copy-of-mind-cj

Saya khilaf. Akhirnya dua kali berturut-turut nge-review film Indonesia (setelah dari pertama kali bikin blog ini sampai sebelum Siti kemarin, belum pernah review film Indonesia satupun).

A Copy Of My Mind, sebuah karya our lord and savior Joko Anwar, yang bercerita tentang Sari (Tara Basro), mbak-mbak facial di salon murah, Alek (Chicco Jerikho), mas-mas yang bikin subtitle dvd bajakan, dan politik Indonesia. Film ini sukses mengawetkan gambaran kehidupan masyarakat kelas (menengah?) bawah di Jakarta pada tahun 2014.

Kalau Siti relatable dalam aspek perjuangan sebagai seorang wanita, A Copy Of My Mind relatable dalam aspek kehidupan sehari-hari sebagai masyarakat kelas menengah bawah di hiruk pikuk kota Jakarta. Mulai dari Estetika Tangan Kenek Megang Duit Segepok, Estetika Masak Mie Instan, Estetika Beli DVD Bajakan, Estetika Makan Mie Instan Sambil Nonton DVD Bajakan, dan Estetika Ena Ena Tanpa Pelindung Karena Pendidikan Seks Dan Reproduksi Di Indonesia Untuk Kelas Menengah Ke Bawah Itu N I H I L.

(Walaupun yang terakhir itu saya belum sih) (eh apa? belom? vvadu)

Btw, ini syutingnya ada di daerah Benhil katanya. Dan emang bener, ada scene yang di dalem Pasar Benhil + Bopet Mini juga. Yang saya kesel, itu ada Pak Dul (toko langganan Eyang. Iya, saya tau namanya) kOK GAK CERITA CERITA JOKO ANWAR SYUTING DI SITU JHAGDJASFDAGFSJK. Curcol dulu sorry not sorry.

Faktor naturalnya film ini juga yang bikin relatable. Mb Tara Basro yang memang sudah indah menawan cantik dinamis tidak menggunakan makeup, Mz Chicco Jerikho yang memang Makhluk Tuhan Paling Seksi rambutnya di sini gondrong, kayak mas-mas biasa. Sari dan Alek itu mas-mas dan mbak-mbak yang kita lewati tiap hari di jalan. Sari dan Alek itu kita.

And can I just say RooftopSound itu warbyasa. Semua lagu yang kedengeran kayak lagu dari radio, ataupun lagu pengamen, itu mereka semua yang bikin. Original. Dan pas. And ohmygod, ada kedengeran suara bass dangdut, ITU!!! ITU SUARA KALO TETANGGA SAYA LAGI DANGDUTAN!!! JAKARTA BRO!!!

Pengalaman saya menonton ACOMM tadi: Close up Sari di balkon, Gelap, Score credits mulai. Lampu teater pun nyala. Dan gak ada satupun penonton yang langsung pergi, termasuk saya dan teman-teman. Kita tau gak ada credits scene kayak film superhero. Kita cuman gak bisa gerak aja. Kita butuh waktu untuk mencerna cerita itu, mengingat gambarannya, sambil masih terngiang suara musiknya, dan menerima akhirannya. Bahkan sampai credits selesai, kita masih ogah-ogahan beranjak dari tempat duduk. Tapi kasihan mas-mas bioskopnya.

Sepanjang perjalanan pulang bersama teman saya, kita banyak diam, masih merenungi Sari dan Alek dan Jakarta. Saya tersenyum melihat kopaja yang lewat. Tersenyum melihat polusi di udara. Tersenyum melihat sesama pejalan kaki. Kadang kita lupa keindahan lingkungan sendiri. Lupa untuk menghargainya karena sesungguhnya kita di sini hanya sesaat. Lalu saya bertanya ke teman saya,

“Bagaimana kalau Alek adalah sebuah metafora untuk mereka yang tidak punya cita-cita, tidak akan bisa bertahan di Jakarta?”

Mungkin Bude adalah metafora untuk Jakarta yang tetap ada, selalu diam, hanya kita sebagai warga yang selalu bergerak tanpa henti. Kebanyakan orang lupa untuk merawatnya, tapi beberapa ingat untuk merawatnya.

Masih banyak pertanyaan untuk kelanjutannya, untuk masa depan. Tapi mungkin, kita harus menerima dengan lapang dada, saat-saat yang masih ada sekarang ini.

Movie Rate: 10/10

Siti (2014? 2016?)

Siti-Poster

Akhirnya…

Ini pertama kalinya gue ngerasa bener-bener punya suara di perfilman Indonesia. Dengan plot klise ftv “Ibu muda galau sama polisi ganteng pas suaminya lagi lumpuh karena kecelakaan”, Siti berhasil menceritakan perjuangan menjadi seorang istri dan seorang ibu yang amat sangat berat dengan se-realistis mungkin. Lah anyign lu masih bocah ngapain koneknya sama perasaan emak-emak.

Siti harus menjadi ibu rumah tangga sekaligus mencari nafkah untuk keluarganya semenjak suaminya menjadi lumpuh. Dengan bekerja sebagai penjual peyek dan ‘pemandu’ karaoke (semacam stripper dengan kearifan lokal ternyata), Siti juga harus berusaha untuk melunasi hutang suaminya (Asu kamu, mas!).

Yawloyawloyawlo. Batin gue lelah banget nonton ini. Buat yang gak ngerti pasti pada bosen atau ketiduran atau mainan hp sambil nonton gara-gara scenesnya satu take panjang banget, kadang cuman ngeliatin suatu kejadian yang bikin “yaudah iye tau terus kenape”. Tapi itu! Itu rasanya jadi Siti!

Salah satu adegan yang paling relatable: Pas Siti nyuci baju dan pas dia masak air. Kampret. Kalo gue tulis gitu ya kayak cuman “yauda terus dia nyuci sama masak trs knp namanya juga ibu-ibu”. LO HARUS LIAT MB SEKAR SARI MERANINNYA KAYAK GIMANA. MAU GUE SEMBAH SAMPE PRAMBANAN TAU GAK.

Semua karakter juga pas banget, yang lebay emang cocok lebay, yang polos emang cocok polos. Yang punya karaoke itu cinta sejati gue. Lagu karaokenya juga foreshadowing hahahahahahasampis.

Dan ternyata ini pake hitam putih dan rasio 4:3 buat ngegambarin kehidupan Siti yang tidak berwarna dan sempit. Eddie Cahyono minta disungkemin emang.

(Ini post apaan sih amburadul banget. Maap yak. Ini jam 1 pagi. Gue baru selesai belajar. Gue udah kayak gini ampir sebulan. Tolongin gue.)

Movie Rate: 10/10

The Wedding & Bebek Betutu (2015)

Terakhir kali gue nonton film Indonesia di bioskop itu nonton Laskar Pelangi. Dan post ini bakalan jadi pertama kalinya gue ngomongin film Indonesia disini. Karena WEBEK terlalu bagus untuk gak diomongin.

Plot: Pernikahan Bagas dan Lana terancam batal dikarenakan keduanya di blackmail seseorang dengan menggunakan bukti-bukti mereka “selingkuh”. The Crew -chef, bell boy, maid, front desk, and janitor- dari hotel tempat pernikahan tersebut dipanggil untuk menyelamatkan pernikahan Bagas dan Lana. Sebenernya kalo diliat dari jauh, plotnya kayak ecek-ecek komedi gak jelas biasa. Tapi kalo diliat lebih jelas lagi, semua karakter dan kejadian di film ini udah ada benang merahnya kesatu sama lain. Pelaku blackmailnya juga gak dikeluarin diakhir cerita kayak “nih pelakunya, bodo amat gak nyambung, ini kan komedi”.

Directing & Cinematography: Kagum parah sama Hilman Mutasi dan Yunus Pasolang. Semua scene gambarnya enak dimata. Tripod temen setia film ini. Dan banyak banget sinematografi yang sangat-sangat-sangattt mirip sama The Grand Budapest Hotel. Kayaknya sih emang dibikin sengaja Grand Budapest-esque ya, dan kalo pendengaran gue gak salah, bagian Beler ketauan ilang, musiknya tuh mirip banget sama soundtrack Grand Budapest yang ini.

Casting: Nothing will ever go wrong when all of Extravaganza cast is reuniting. Mulai dari Tora Sudiro sama Rony Dozer, dari TJ sampe Virnie Ismail, ada semua! Personally, menurut gue yang paling oke itu karakternya Tora, Edric Tjandra, sama Ronal. Tora disini jadi chefnya, dan jujur, penampilannya dia ngingetin gue sama chefnya Wet Hot American Summer, jadi gue suka, and really, ini Tora Sudiro, mau diapain aja juga lucu. Edric karakternya orang betawi yang terobsesi sama korea, gue suka karakternya karena dia jujur banget sama dirinya sendiri dan dia unik banget. Ronal jadi pemilik hotel sekaligus bapaknya Lana, karakter dia gue liat banyak terinspirasi dari ‘karakter’ yang dia pake buat tampil di acara tv ILK, ngomong sunda pake logat belanda dan ngomong singkatan pake logat belanda.

Gue paling suka film ini karena komedinya tuh komedi pinter. Dan biasanya satu bit langsung dilanjutin bit lainnya, jadi penonton juga diajak buat cekatan nangkep lawakannya. Ini gak terlalu spoiler tapi gue cuman bakal bilang, pada satu titik di film, ada anal joke yang dilanjutin sama masturbation joke dimana dua-duanya itu kayak subtext banget (Gue baru nyadar ada masturbation joke pas nonton kedua kalinya), dan gue bangga bisa nangkep keduanya.

Kemaren gue nemenin Nyokap yang emang ngefans sama castnya bukan nonbar WEBEK bareng castnya. Dan pas registrasi gue dikasih kartu mainan The Wedding and Bebek Betutu, dimana isinya bukan remi tapi karakter-karakter filmnya. Mainannya cuman main Joker (atau Blackmail kalo disitu tulisannya) sama Jujur Atau Bohong sih, tapi salut aja gitu sama tim promotionnya. Niat abis.

IMG-20151018-WA0000

Movie Rate: 9/10

The Wolfpack (2015)

Gila ya, gue udah nungguin ini dari awalan tahun gara-gara akhirnya! Akhirnya! AKHIRNYA! Ada documentary tentang anak-anak homeschooling yang dikekang di rumahnya dari kecil! (Did you mean: kehidupan gue.)

Dan……………………hasilnya gak semenjanjikan premisnya.

Premisnya: Adik-kakak keluarga Angulo (6 cowok, 1 cewek yang paling kecil) kira-kira udah 14 tahunan ‘dipenjara’ dirumahnya sendiri. Keluar rumah(apartemen) setahun paling banyak cuman 9 kali, pernah setahun gak pernah keluar sama sekali, pendidikannya homeschooling diajarin nyokapnya, dan satu-satunya pelarian mereka adalah dunia film.

Sutradara film ini baru ketemu mereka (yang cowok-cowok) pas mereka udah ‘membebaskan’ diri sendiri dari kekangan orang tuanya. Jadi isi filmnya lebih kayak wawancara dan reka ulang gimana mereka menghabiskan waktu luang mereka biasanya sambil diselingin video masa kecil mereka.

Hasilnya, membuka sisi pandang yang baru bahwa di abad ke-21 ini masih ada remaja yang bisa hidup kayak gitu, dan walaupun ini kasus yang sangat-sangat jarang, penonton bisa merelasikan diri dengan mereka lewat kesamaan cinta ke dunia perfilman.

Lucu dan seru di bagian mereka reka ulang film-film kesukaannya atau randomly quoting movie lines (made you wish you were in that squad), sedih dan mengharukan di bagian mereka ngomongin kehidupannya. Perbedaan yang sangat terlihat dari dua dunia yang mereka tinggali sejak kecil.

Tapiiiii, kekurangannya satu film adalah:

  • Kurangnya pemberian informasi. Misal, itu ada 6 adik-kakak yang sering disorot, dimana semuanya keliatan sama dengan rambut panjangnya, rasanya sih bakal bantu banget ya buat ngenalin satu-satu dulu diawalan film seenggaknya pake caption gitu lah.
  • Terlalu berpusat kepada Mukunda. Saudara yang lain dikasih kesempatan buat ngomong juga sih, tapi ya itu tadi, gaada ‘nametag’ jadi yang lain selain Mukunda kayak ngeblur jadi satu aja gitu, gak bisa dibedain. Padahal gue rasa bakal lebih oke kalo setiap anggota digali ceritanya menurut perspektif masing-masing dan dilanjutin gimana keadaan mereka setelah akhirnya bebas dari penjara rumahnya.
  • Biased. Satu film ini seakan-akan cuman ada buat mengacungkan jari ke ayah mereka. Dan bagian Ayahnya ngejelasin perspektif dia juga rasanya kayak apapun yg dia omongin itu gak penting karena beberapa closeup dicut terlalu cepat seakan biar gak ngelewatin batas durasi. Oke, perbuatan bokapnya itu sadis buat mental anak-anaknya, but let the man talk his own truth clearly and quietly and let the audiences decides their views.
  • Crystal Moselle, sutradaranya, gak kayak dia yang nuntun arah film ini. Jujur, mending credits buat Director dibagi dua sama Mukunda.

Meskipun begitu, gak terlalu mengecewakan sih. Gue tetep suka bagian mereka mengeluarkan sisi cinephile geek-nya, bagian mereka nunjukin kreatifitasnya, dan bagian mereka nunjuki sisi emosionalnya akan keadaan mereka 14 tahun terakhir. Dan, untuk percobaan pertama Crystal di kursi sutradara, not too shabby.

Movie Rate: 7.5/10

Testament Of Youth

Dibincangkan sebagai Atonement-nya tahun ini, Testament Of Youth memberikan sebuah kisah nyata dengan pandangan yang lebih luas dan personal secara bersamaan. Di sutradarai oleh James Kent, film ini dipenuhi dengan close-up shots yang membuat hubungan penonton dan cerita dilayar terasa intim. Diambil dari memoir Vera Brittain dan ditulis untuk layar oleh Juliette Towhidi, kisah nyata ini mengambil semua atmosfer WWI secara universal, isu feminist di jaman itu juga diberi sorotan, dan isu pacifist tepat setelah berakhirnya WWI juga diperlihatkan.

Vera Brittain, dimainkan oleh Alicia Vikander dengan emosi yang sangat kuat dan tepat, berawal sebagai gadis beranjak dewasa yang ingin diijinkan untuk bersekolah di Oxford, lelah dengan keinginan orang tuanya yang memaksanya untuk menikah. Roland Leighton, dimainkan oleh Kit Harrington, teman dari adik laki-lakinya Vera yang mempunyai impian sama dengan Vera, memasuki Oxford dan menjadi penulis. Blablabla, mereka ngobrol, jatuh cinta, ya romantis biasa lah gitu.

WWI pun mulai dan mental semua pria-pria muda tuh kayak, “gak ikut perang = gak gaul”. Jadilah Roland masuk tentara, adiknya Vera — Edward, dimainkan oleh Taron Edgerton — juga masuk tentara, terus ada teman deket merea berdua, Victor (dimainkan oleh si unyu Colin Morgan), yang akhirnya masuk tentara juga walaupun awalnya ditolak gegara penglihatannya gak sempurna. Spoiler alert, ada yang mati. (Ya menurut lo.)

Walaupun durasinya normal (2 jam), tapi gue nonton ini kok ya rasanya lama banget. Basically ini film ceritanya dari beberapa saat sebelum WWI mulai sampe WWI selesai, jadi ya mungkin karena itu rasanya lama.

Tapi rasanya lama juga gak bikin bosen, cuman emotionally exhausted. Gue ngeliat sinematografinya estetika banget tiap saat juga gak ngebantu sumpah, udah “yaoloh capek tolong dong ini ceritanya downhill mulu, buang hayati ke rawa-rawa abang.”.

Tonton ini kalo: suka Atonement, lagi pengen baper, punya banyak waktu, suka film drama peperangan, tahan ngeliat darah dan amputasi, mau liat Emily Watson jadi ibunya orang di drama jaman dulu untuk seratus kalinya.

Movie Rate: 7.5/10

Inside Out (2015)

Bagaimana kalau kita bisa melihat kedalam pikiran seorang anak berumur 11 tahun (Riley) yang harus pindah dari kota kelahirannya?

Pixar sekali lagi berhasil membuat cerita original yang berhasil membuat semua orang menangis. Sebenernya, justru kalo lo udah +12 makin besar kemungkinan lo bakal nangis. Karena semua kejadian atau emosi yang ada di film ini pasti pernah terjadi ke elo.

Ketika Riley baru dilahirkan ke dunia ini, hanya ada Joy di dalam emosinya. Lalu semakin besar, semakin banyak emosinya, ada Sadness, Disgust, Fear, dan Anger. Di dalam pikiran Riley juga ada Islands Of Personality, pulau pulau kecil yang menentukan personalitas Riley. Ada pulau keluarga, teman, candaan, dan hoki (hobby Riley).

Kepindahan Riley dari Minnesota membuat memorinya berubah, memori dia dan teman-temannya yang tadinya gembira menjadi sedih karena dia udah pindah meninggalkan temen-temennya. Semakin hari setelah Riley pindah, dia makin berubah, Islands of Personality nya satu persatu hancur karena Riley masih belum bisa beradaptasi dan menerima perubahan ini.

Gue cinta banget sama film ini karena film ini berhasil memvisualisasikan keadaan pikiran seorang anak yang dikelabuti ketakutan dan kesedihan. Film ini ada untuk mereka yang tidak atau jarang merasakan kebahagiaan karena suatu perubahan. Film ini untuk memberi tahu semua orang bahwa, “Gapapa untuk bersedih, gapapa untuk menangis. Bersedih dan menangis bukan berarti lemah. Menangis bisa menjadi awal dari diri kalian yang baru dan lebih kuat.”

Ini yang paling penting, ketika gaada lagi Islands of Personality, Riley gak akan bisa merasakan apa-apa. Dia hanya akan merasa hampa. Beberapa dari kita pasti pernah merasakan kehampaan itu, I know I have. Tapi itu bukan berarti kita gak bisa membuat Islands of Personality lagi. Kita bisa membuat ulang dengan bantuan keluarga, teman-teman dan orang tersayang kita.

Di film ini, Sadness awalnya digambarkan sebagai emosi yang gak berguna, buat apa ada karakter yang hanya membuat orang jadi sedih? Apa gunanya dia? Tapi diakhir film kita mengerti bahwa kesedihan ada untuk memberi sinyal ke orang lain bahwa kita gak baik-baik saja, kita butuh bantuan, dan mereka akhirnya membantu kita.

Untuk gue, film ini membuat pernyataan untuk menyuport teman-teman kita yang mempunyai mental illness. And it means a lot to me. So thank you, Inside Out. Thank you.

Movie Rate: 10/10