ALBUM: Youth Lagoon’s The Year Of Hibernation (2011)

Youth Lagoon, nama panggung dari cowok kelahiran tahun ’89, the great and magical Trevor Powers. Sudah aktif dari tahun 2010, YL baru muncul di radar tahun 2011 dengan album pertamanya, The Year Of Hibernation.

Penyebaran The Year Of Hibernation gak secara terang-terangan. Orang-orang cuman bakal tau ada berlian ini kalo mereka sering baca blog musik. Gak ada yang namanya video clip VEVO, cuman ada dua lagu — July dan Montana — yang dibikin video clipnya (oleh teman Trevor sendiri, Tyler Williams).

Tema albumnya sangat personal untuk Trevor karena lagu-lagu yang ada di album ini dibikin ketika Trevor sedang mengalami anxiety dan panic attacks. Bisa diliat sendiri dari lirik-lirik lagunya yang suram seperti “I can’t turn the switch off causing my headache” dari Daydream, “While five years ago I weep and no one knew” di July, dan “I have a sickness in my head that won’t go away” di The Hunt.

Selain itu Trevor juga mengalami ketakutan akan kematian dan hal itu juga sangat terlihat dari liriknya di Montana, “And a plant is said to be dead if it doesn’t grow. I’ll grow. I will grow. I’ll grow”.

Dalam membuat album ini, Trevor berhenti counseling untuk masalah-masalahnya dan hal itu membuat hubungan dia dan pacarnya retak. Maka dari itu ada bagian-bagian patah hati juga di albumnya seperti di lagu July dan The Hunt.

Genre albumnya itu full-on ambient, psychedelic, dream pop, dan vocal Trevor sangat-sangat haunting. Vocal Trevor isn’t like any other vocalist I’ve ever heard. Awalnya pasti bakal mikir “What’s up with his voice?” karena vocalnya dikasih effect banyak banget dan kayak berusaha untuk nutupin liriknya dengan psychedelic dreamy tune which i think is brilliant because it fits the theme.

I just really really love this album and Youth Lagoon’s songs because anxiety is not something that is common in music. Dan dia berhasil membuat lagu tentang itu dalam nada yang diawal album psychedelic catchy dan berakhir dengan psychedelic synth pelan. Jujur, dengerin album ini justru membantu gue untuk tenang.

Recommended tracks: Daydream, Posters, The Hunt.

Album Rate: 9.5/10

Advertisements

ALBUM: The Great Pretenders by Mini Mansions

ArticleSharedImage-46824

 

The Great Pretenders, album kedua dari Mini Mansions yang baru aja dirilis tanggal 23 Maret kemaren.

Album ini buat gue rasanya kayak kalo Tame Impala dan ELO nikah terus bikin anak. Ya album ini itu anaknya mereka. Psychedelic abis tapi kayak ada vibe tahun 70an atau 80an gitu you know. Dengan dua vocalist, Tyler Parkford (yang nadanya tinggi) dan Michael Shuman (yang nadanya rendah, kalo live Vertigo dia yg gantiin part Alex Turner) (Kalo nyanyi live dia kayak marah mukanya. Gue takut), The Great Pretenders seimbang banget upbeat dan slowbeat nya.

1. Freakout!: Dengan awalan fade in, pelan pelan mengenalkan gaya album ini. Dope bass synth and drum ryhtm bervariasi dari slow ke upbeat ke slow lagi.

2. Death Is A Girl: drum beat yang diulang-ulang sampe mampus, old-style synth, dan effect tebel buat vokalnya. Rasanya kayak luar angkasa(?)

3. Creeps: slow beat drum jadi jagoannya ditambah electric guitar.

4. Fantasy: Efek vokal: speaker toa di sekolah. Upbeat drum. Keyboard synth game: strong. Rasanya kayak lagi dikejar anjing setan tengah malem.

5. Any Emotions: Guitar melody. FX Drum kit. Rasanya kayak abis make narkoba terus jalan malem malem.

6. Vertigo: YATUHAN ABANG ALEX SUARANYA GANTENG AMAT BANG. *gak fokus*. Ya, track yang satu ini featuring the ganteng Alex Turner yang juga ikutan nulis lagu ini. Tak kuase aku bang.

7. Honey, I’m Home: Dance drum kit. Tau theme song game-game arcade jaman 90an-awal 2000 gak? Iya, ini kayak gitu buat gue. Vocal effect: Youth Lagoon.

8. Mirror Mountain: nyambung dari Honey, I’m Home. Awalnya gue kira ini coda-nya Honey, I’m Home, tapi kok ya lama banget. Taunya udah ganti track. Rada kayak lagu The Runaways sih buat gue. Lagu rock 80-an gitu lah.

9. Heart Of Stone: Slow beat drum with grand piano. Lagu mengheningkan cipta sabtu malam.

10. Double Visions: upbeat drum. Reminds me of: 90s music videos with skateboarders and yellow outfits.

11. The End, Again: Calm and steady and haunting. Buat yang mau nemplokin kepala ke jendela pas malem-malem lagi naik mobil.

Album rate: 8.5/10

Album: Alt-J’s This Is All Yours

image

Alt-j kembali dengan album kedua mereka yang lebih kompleks, lengkap, dan seksi.
Di awali seperti An Awesome Wave yaitu dengan track Intro yang kurang lebih sama anehnya dengan Intro dari An Awesome Wave tetapi dengan maksud lebih jelas (dibutakan cinta) dan lirik berdasarkan Wu-tang Clan – Jump Off walaupun mereka ganti beberapa kata.
Dilanjutkan dengan Arrival In Nara, track pertama dari trilogy Nara di album ini yang berdasarkan hukum di Russia yang menyatakan bahwa homoseksual itu ilegal dan akan ditangkap jika mereka memperlihatkan seksualitasnya di publik. Untuk track ini bercerita tentang wanita yang bahagia bahwa dia mati karna sesuatu yang dia cintai. Track kedua dari trilogy Nara adalah Nara, dengan referensi lagu Petrol Blues, film Blue Is The Warmest Colour, dan buku Narnia, track satu ini penuh dengan emosi dan menurut gue ini lagu paling penting dari satu album ini. Track ketiga dari trilogy Nara adalah Leaving Nara, dengan referensi dari Narnia dan Blue Is The Warmest Colour lagi, track ini tentang duka atas kehilangan pasangannya.
Lalu ada lagu-lagu yang seksi, which is a bit new for alt-j because their last album consists mostly of dysfunctional relationship. Track Every Other Freckle itu 100% nafsu. Track Left Hand Free lebih condong ke flirting tapi dengan hint masturbasi hahahaha. Track Bloodflood pt. II yaitu sekuel dari Bloodflood di An Awesome Wave dengan potongan potongan lirik dari Bloodflood, Fitzpleasure, dan 353. Kalau Every Other Freckle masih tentang mau “makan” seseorang, Bloodflood pt. II tentang me”makan” orangnya.
Dan ada lagu-lagu yang cinta dengan melodi menenangkan. Hunger Of The Pine, menerangkan bahwa “pining” itu rasa sakitnya sama seperti lapar. Warm Foothills aka the cuddling song. Pusher, track akustik yang menerangkan bahwa di hubungan yang baik harus ada ‘pusher’ dan ‘puller’.
And of course ada lagu random di album ini. The Gospel Of John Hurt 100% terinspirasi dari scene John Hurt di film Alien ketika sebuah alien keluar dari badannya. Choice Kingdom alt-j’s anthem song for good old Britain. Garden Of England adalah lagu instrumental berisikan kicauan burung dan alat musik tiup khas Inggris.
Album ini mempunyai bonus hidden track alt-j covering Bill Withers’s Lovely Day.
Album Rate: 10/10 because its freaking alt-j’s

Album: Wild Nothing’s Nocturne

Wild Nothing - Nocturne

Nocturne adalah album kedua dari band indie-rock Wild Nothing yang dirilis tahun 2012 dengan 11 track yang semua ditulis oleh Jack Tatum, vocalist Wild Nothing.

Dibuka dengan Shadow yang bagaikan soundtrack orang lari mengikuti crushnya, dan dilanjutkan dengan Midnight Song yang menjadi soundtrack longing dimalam hari sambil melihat sinar rembulan dan ditemani dengan buku diary, dilanjutkan lagi dengan Nocturne yang menurut gue seperti soundtrack pertemuan dua orang yang sangat berbeda tetapi saling menarik satu sama lain, Through The Grass bagaikan soundtrack yang dimainkan ketika sebuah pasangan berlarian dan bermain di padang rumput di musim semi, Only Heather is obviously soundtracknya orang yang sudah mabuk kepayang dengan cintanya terhadap orang lain, This Chain Wont Break adalah lagu ketika kalian sudah terlanjur terjerat jaring cinta kalian sendiri dan kalian ingin lepas dari jaring itu tapi tak bisa karena kehidupan ini tidak adil dan siang malam itu berbeda, Disappear Always is such a post breakup song, Paradise: a one night song (basically), Counting Days sepertinya sekuel Disappear Always karna gue ngerasa ini lagu post breakup dalam masa denial, The Blue Dress adalah lanjutan Counting Days dimana orangnya sudah dalam masa depresi, Rheya adalah lanjutan The Blue Dress dimana orangnya sudah pasrah gak bisa move on karna kokoronya sudah lelah.

Album Rate: 8/10

Album: The Staves’s Dead & Born & Grown

photocat2

 

The Staves, band folk trio dari Inggris yang menurut gue harusnya lebih dikenal banyak orang. Emily, Jessica, dan Camilla adalah personilnya dan mereka bertiga adik-kakak. Iya iya tau langsung mikir apa, “Ah, kayak HAIM”. Sure, sama kayak HAIM band trio(well, actually HAIM ada tambahan 1 drummer) dan adik-kakak cewek semua. Tapi genre HAIM dan The Staves sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat berbeda, HAIM bagaikan gadis kota dan The Staves bagaikan gadis desa. Dan menurut gue, tolong jangan bunuh saya, dalam segi keharmonisan The Staves jauh lebih baik dari pada HAIM, terutama kalau live.

Dead & Born & Grown adalah debut album The Staves dengan 12 lagu mereka. Album ini cocok buat didengerin di minggu atau sabtu pagi. Atau kalau kalian semua kebo, buat sore-sore juga oke. Kebanyakan lagu-lagu di album ini beraliran pelan tetapi dengan lirik yang sangat kuat.

Buat yang suka lagu slow, tenang, buat menemani perjalanan atau buat jadi soundtrack pas lagi melihat keluar jendela dengan pandangan galau, Mexico, Eagle Song, In The Long Run, Facing West, Pay Us No Mind(must listen to this one because UGH! the lyrics is such a ‘fuck you’ to a sexist), The Motherlode, Gone Tomorrow, Wisely and Slow, dan Dead & Borb & Grown cocok buat kalian.

Sedangkan Snow dan Tongue Behind My Teeth menurut gue paling cocok didengerin sambil lari. Bukan lari kabur dari rumah, i mean lari olahraga.

The Staves, bersuara manis dengan kata-kata yang tajam. And a must see for live performance! Suara mereka bagus banget gue mau nangis dan nikahin suara mereka terus nangis lagi terus terjun dari tebing

Album Rate: 9/10

Album: Alt-J’s An Awesome Wave

Hella, album review pertama gue bakalan tentang album Alt-J, indie band asal Inggris, YANG TADINYA ADALAH BAND QUARTET TAPI MAS GWIL KELUAR JADI SEKARANG TRIO AKU SEDIH.

Eniwey, Alt-J terkenal sama liriknya yang amat sangat aneh, dan subtextnya kekubur dalem banget gue gak ngerti arti lagu-lagunya apa sampai akhirnya gue Google arti lagu-lagunya.

Album ini terdiri dari 14 lagu: Intro, Interlude 1, Tessellate, Breezeblocks, Interlude 2, Something Good, Dissolve Me, Matilda, Ms, Fitzpleasure, Interlude 3, Bloodflood, Taro, Hand-Made.

Lagu-lagu paling terkenal dari album tersebut adalah: Tessellate, Fitzpleasure, dan Breezeblocks.

After a brief clicks on Google, ternyata album ini influenced dari film dan buku. Seperti Breezeblocks yang terinspirasi dari buku Where The Wild Things Are. Fitzpleasure, yang terinspirasi dari buku Last Exit To Brooklyn. Dan Matilda, yang terinspirasi dari film Léon.

Album ini cocok banget buat nari sendirian (because narinya pasti bakal aneh karena emang melodi lagu-lagu ini bener-bener weird) di kamar malem minggu.

For me, the most related song is Tessellate and the weirdest but actually really fun song is Fitzpleasure (which is a tragic because apparently it’s about a gang rape scene).

Album rate: 10/10