Gender dan Seksualitas dalam Literatur Perancis Abad ke-19

Gender dan Seksualitas dalam Literatur Perancis Abad XIX cover

Tulisan ini berawal dari tugas presentasi untuk mata kuliah Pengantar Kesusastraan Perancis di mana saya dibebaskan untuk memilih topiknya dan seperti manusia pada umumnya saya memilih topik Gender dan Seksualitas.

Jujur aja, gue gak milih topik ini dari awal karena gue pun gak tahu apakah di abad ke-19 sudah ada karya sastra yang menyangkut gender dan seksualitas di Perancis karena ciri khas abad tersebut adalah masa kejayaan romantisme dan penulis paling terkenal dari abad tersebut adalah Victor Hugo dengan Les Misérables yang tidak memiliki representasi seksualitas (walaupun ada sedikit menyangkut tentang gender yang akan saya bicarakan nanti), kecuali jika lo salah satu manusia yang memasangkan Valjean-Javert atau Marius-Enjolras.

Akan tetapi sebuah cahaya ilahi bernama gen(dot)lib(dot)rus(dot)ec menuntun gue hingga menemukan buku Tim Farrant (my lord and savior), An Introduction to Nineteenth-Century French Literature, yang membicarakan dari sejarah abad ke-19 hingga ke … karya literatur bertemakan gender dan seksualitas. Farrant deserves a special place in heaven.

Berbekalkan pengetahuan dasar dan beberapa judul karya literatur dari buku tersebut, gue memulai riset sendiri ke pelosok-pelosok internet hingga menemukan sebuah laman dengan interface yang sangat tahun >2008 (tetapi sangat berguna) juga membaca thesis seorang manusia karena sulit sekali mencari plot tentang suatu novel. Kesal.

Penulis perempuan di Perancis pada abad ke-19

Masyarakat paska revolusi 1789 walaupun dengan semboyan égalité yang sudah eksis masih belum menjajaki kesetaraan gender. Di dalam déclaration des droit de l’homme  sendiri tidak mengungkit apapun tentang perempuan, itu juga yang menyebabkan Olympe de Gouges menulis déclaration des droits des femmes. Perempuan masih belum memiliki suara dalam politik dan di bawah kekuasaan Napoléon, hak gugat cerai dihapuskan sehingga perempuan seakan dibuat menjadi ‘budak’ dalam rumah tangga.

Latar belakang keadaan tersebut yang melahirkan dua penulis perempuan paling berpengaruh di abad ke-19, yaitu George Sand (Aurore Dupin) dan Flora Tristan. Dua manusia ini sebenarnya mempunyai visi yang sama yaitu untuk perempuan tidak hanya menjadi ibu rumah tangga tok. Tapi seperti manusia pada umumnya, tentu ada perbedaan pendapat di antara mereka.

George Sand menyuarakan feminisme melalui cerita fiksi dengan menghadirkan karakter perempuan yang terdidik, pintar, tidak takut menyuarakan pikirannya, dan dikagumi oleh para pria dengan harapan representasi perempuan seperti ini lambat laun akan mengubah cara pandang masyarakat akan peran gender seorang perempuan dalam kehidupan sosial. Beliau tidak terlalu setuju dengan aktivis feminis seperti Flora Tristan yang terkesan terlalu ekstrim. Menurutnya, perempuan tidak dapat berkecimpung di dunia politik jika masih terkekang di rumah.

Flora Tristan adalah seorang aktivis yang menulis artikel koran dan buku tentang permasalahan perempuan dan kaum pekerja pada masa itu. Sama seperti Sand, ia juga pernah menikah dan meninggalkan pernikahannya tersebut, akan tetapi Tristan meninggalkan anaknya karena masalah ekonomi, sementara Sand yang berasal dari kaum borjuis tidak dapat mengerti alasan ekonominya tersebut sehingga menganggap Tristan sebagai epitome dari gambaran masyarakat tentang feminis yang menelantarkan keluarganya sendiri. Sementara Tristan sendiri melihat Sand seakan malu mengakui dirinya feminis karena, 1.) Sand memakai nama pena laki-laki (nama aslinya Aurore Dupin) 2.) Sand menyuarakan feminisme melalui fiksi, kedua hal tersebut dianggap Tristan sebagai cadar bagi Sand yang tidak berani menyuarakan feminisme secara langsung.

Representasi prostitusi dalam literatur abad ke-19

Prostitusi merupakan hal yang menarik baik dalam literatur ataupun dalam masyarakat sosial Perancis di abad ke-19. Perlu diketahui bahwa pada abad tersebut telah ada prostitusi perempuan dan laki-laki, akan tetapi fokus masyarakat lebih terarah kepada prostitut perempuan dikarenakan tujuan mereka adalah memuaskan hasrat ataupun nafsu para laki-laki yang dianggap normal. Prostitusi pada abad tersebut juga telah memerhatikan aspek kesehatan dan standard, bukan untuk keamanan pekerja seks itu sendiri, akan tetapi untuk melindungi pelanggan dari kemungkinan terjadinya pencurian, kekerasan, dan penyakit menular.

Prostitusi di Perancis pada abad ke-19 dibagi menjadi 3 kelas, Les Filles, La Lorette, dan La Courtisane. Les Filles adalah pekerja seks jalanan yang merupakan kelas terendah dalam sistem prostitusi. La Lorette adalah pekerja seks yang lebih tinggi dibanding Les Filles, mereka masih berawal menjajakan diri di jalanan akan tetapi selanjutnya mereka akan “melakukan pekerjaannya” di sebuah hotel. La Courtisane adalah kelas prostitusi tertinggi yang mana mereka adalah selingkuhan atau simpanan bagi para bangsawan, mereka terlihat seperti bangsawan sendirinya dan sering mendapatkan hadiah dari pelanggannya, kurang lebih seperti sugarbaby jaman sekarang.

Karakter prostitut yang paling terkenal adalah Fantine dari novel Les Misérables karya Victor Hugo. Digambarkan dalam cerita tersebut bahwa Fantine adalah seorang prostitut dalam kelas Les Filles yang digambarkan oleh Hugo sebagai wanita malang yang masih memiliki moral. Selanjutnya dalam buku Balzac berjudul Splendeurs et Misères des Courtisanes digambarkan seorang prostitut dalam kelas La Courtisane yang dimanjakan dan bersifat hedonis. Dua representasi prostitut dalam literatur ini juga tidak jauh dari latar belakang penulisnya sendiri, Victor Hugo yang berasal dari kaum kelas bawah cenderung “bermain” dengan Les Filles sedangkan Balzac yang berasal dari keluarga borjuis tentu hanya mengenal tipe La Courtisane yang hedonis.

Hermaphrodite, Homoseksualitas, Biseksualitas, dan Peran Gender

E e e sumpah ya susah anjir ngehubungin dan ngelompokin novel-novel yang ada gara-gara either pesannya terlalu subteks atau dia punya irisan temanya banyak jadi kayak aaaa mati lu.

Hermaphrodite adalah sebutan lain untuk Androgyny yang diambil dari buku Ovid berjudul Metamorphoses. Hermaphrodite dalam literatur perancis abad ke-19 sangat menitikberatkan pada aspek crossdressing. Pengecualian terdapat pada buku Balzac berjudul Seraphita yang menceritakan seorang hermaphrodite yang tidak membicarakan apakah dia seorang laki-laki atau perempuan, selain itu buku tersebut juga memiliki unsur biseksualitas dikarenakan “keindahan” Seraphita yang membuatnya baik menarik ataupun tertarik bagi pria dan wanita. Unsur-unsur hermaphrodite dan biseksualitas yang serupa juga dilontarkan secara subteks dalam puisi Gautier berjudul Contralto yang berada dalam buku kumpulan puisinya, émaux et camées. Hal yang senada juga ada dalam buku Gautier berjudul Mademoiselle de Maupin walaupun dalam hal ini ia memiliki unsur crossdressing juga selain unsur hermaphrodite dan biseksualitas.

Selain itu, Hermaphrodite dan crossdressing juga dapat dihubungkan dengan homoseksualitas, yang sebenarnya cukup menarik karena seorang tersebut baru tertarik terhadap lawan jenis setelah ia mengubah gendernya menjadi sama dengan lawan jenis tersebut. Hal ini dapat dilihat dari novel pertama di abad ke-19 yang memiliki karakter hermaphrodite yaitu Fragoletta: Paris et Naples en 1799 karya Latouche yang memiliki karakter utama seorang hermaphrodite yang tanpa diketahui oleh pengagumnya adalah seorang laki-laki dan sebenarnya memiliki ketertarikan terhadap perempuan (walaupun dirinya juga dalam penampilan seperti seorang perempuan) bukan terhadap laki-laki. Hal yang serupa namun tak sama terdengar dari novel Balzac berjudul Sarrasine yang sangat terpengaruh dengan Latouche. Unsur cinta segitiga dengan bumbu homoseksual dan androgyny adalah koentji.

Sementara salah satu dari lumayan banyak novel yang kontroversial adalah Monsieur Vénus karya Rachilde. Novel ini terbilang kontroversial pada jamannya dikarenakan penggambaran seks yang bordering on S&M dan juga terdapat unsur feminization of a man yang terjadi dalam hubungan sebuah pasangan. Raoule, seorang wanita kaya, mengubah pasangan kelas pekerjanya, Silvert, lama kelamaan menjadi lebih seperti wanita. Hal ini sangat memungkinkan disebabkan oleh perbedaan kelas di antara mereka dan juga digambarkan bahwa Silvert memiliki wajah yang tampak sangat feminin. Terjadi adanya pertukaran peran gender dalam cerita ini di mana sang perempuan lebih dominan dibanding sang lelaki yang feminin dan penurut.

Kesimpulan

Kayaknya kalo gue ngambil penjurusan Sastra bakal lancar skripsiannya. Aamiin. (Tapi aing mau budaya)

Daftar referensi biar kayak tulisan bener

Crahay, G. (2015). “ON AURAIT PENSÉ QUE LA NATURE S”ÉTAIT TROMPÉE EN LEUR DONNANT LEURS SEXES’: MASCULINE MALAISE, GENDER INDETERMINACY AND SEXUAL AMBIGUITY IN JULY MONARCHY NARRATIVES. Bangor University.

Kota, Mounica V. Ms. (2014). “Gender and Class Differences in 19th Century French Prostitution,”. Oglethorpe Journal of Undergraduate Research: Vol. 3: Iss. 1, Article 5.

Farrant, T. (2007). An Introduction to Nineteenth-Century French Literature. Bloomsbury Publishing.

Women Writers. (n.d.). Retrieved April 23, 2017, from http://www.mtholyoke.edu/courses/rschwart/hist255/at/writers.html

 

Advertisements

One thought on “Gender dan Seksualitas dalam Literatur Perancis Abad ke-19

  1. gokil weh tulisan lu yg ini wkwkw gua salut, gua support lau dah haha. gua aja belum bisa bikin kekbeginian wahaha. bingung mau taro apan di blog gua kalo gua nulis.. yang ada abstrak wkwkw. btw, notif koment sm postan lau udah gua nyalain semoga gua belajar banyak dari lau wkwkw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s