The Wolfpack (2015)

Gila ya, gue udah nungguin ini dari awalan tahun gara-gara akhirnya! Akhirnya! AKHIRNYA! Ada documentary tentang anak-anak homeschooling yang dikekang di rumahnya dari kecil! (Did you mean: kehidupan gue.)

Dan……………………hasilnya gak semenjanjikan premisnya.

Premisnya: Adik-kakak keluarga Angulo (6 cowok, 1 cewek yang paling kecil) kira-kira udah 14 tahunan ‘dipenjara’ dirumahnya sendiri. Keluar rumah(apartemen) setahun paling banyak cuman 9 kali, pernah setahun gak pernah keluar sama sekali, pendidikannya homeschooling diajarin nyokapnya, dan satu-satunya pelarian mereka adalah dunia film.

Sutradara film ini baru ketemu mereka (yang cowok-cowok) pas mereka udah ‘membebaskan’ diri sendiri dari kekangan orang tuanya. Jadi isi filmnya lebih kayak wawancara dan reka ulang gimana mereka menghabiskan waktu luang mereka biasanya sambil diselingin video masa kecil mereka.

Hasilnya, membuka sisi pandang yang baru bahwa di abad ke-21 ini masih ada remaja yang bisa hidup kayak gitu, dan walaupun ini kasus yang sangat-sangat jarang, penonton bisa merelasikan diri dengan mereka lewat kesamaan cinta ke dunia perfilman.

Lucu dan seru di bagian mereka reka ulang film-film kesukaannya atau randomly quoting movie lines (made you wish you were in that squad), sedih dan mengharukan di bagian mereka ngomongin kehidupannya. Perbedaan yang sangat terlihat dari dua dunia yang mereka tinggali sejak kecil.

Tapiiiii, kekurangannya satu film adalah:

  • Kurangnya pemberian informasi. Misal, itu ada 6 adik-kakak yang sering disorot, dimana semuanya keliatan sama dengan rambut panjangnya, rasanya sih bakal bantu banget ya buat ngenalin satu-satu dulu diawalan film seenggaknya pake caption gitu lah.
  • Terlalu berpusat kepada Mukunda. Saudara yang lain dikasih kesempatan buat ngomong juga sih, tapi ya itu tadi, gaada ‘nametag’ jadi yang lain selain Mukunda kayak ngeblur jadi satu aja gitu, gak bisa dibedain. Padahal gue rasa bakal lebih oke kalo setiap anggota digali ceritanya menurut perspektif masing-masing dan dilanjutin gimana keadaan mereka setelah akhirnya bebas dari penjara rumahnya.
  • Biased. Satu film ini seakan-akan cuman ada buat mengacungkan jari ke ayah mereka. Dan bagian Ayahnya ngejelasin perspektif dia juga rasanya kayak apapun yg dia omongin itu gak penting karena beberapa closeup dicut terlalu cepat seakan biar gak ngelewatin batas durasi. Oke, perbuatan bokapnya itu sadis buat mental anak-anaknya, but let the man talk his own truth clearly and quietly and let the audiences decides their views.
  • Crystal Moselle, sutradaranya, gak kayak dia yang nuntun arah film ini. Jujur, mending credits buat Director dibagi dua sama Mukunda.

Meskipun begitu, gak terlalu mengecewakan sih. Gue tetep suka bagian mereka mengeluarkan sisi cinephile geek-nya, bagian mereka nunjukin kreatifitasnya, dan bagian mereka nunjuki sisi emosionalnya akan keadaan mereka 14 tahun terakhir. Dan, untuk percobaan pertama Crystal di kursi sutradara, not too shabby.

Movie Rate: 7.5/10

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s