Mad Max: Fury Road (2015)

10353400_661462377292620_5650103949489993553_o

Max, seorang pengelana tunggal di post-apocalyptic earth, tertangkap oleh War Boys, pasukan dari villain utama, Immortan Joe. Max berhasil kabur dari penjara di Citadel dan mendapati dirinya bertarung bersama dengan Imperator Furiosa untuk membantu pelarian kelima “istri” Immortan Joe: Angharad, Capable, Cheedo, Toast, dan Dag.

Ini bisa dibilang sebagai lanjutan dari franchise Mad Max yang terakhir rilis 30 tahun yang lalu, tapi bisa juga ditonton sebagai film tunggal. Penonton gak harus nonton ataupun tau tentang film-film sebelumnya di franchise ini untuk bisa menikmati Mad Max: Fury Road.

Mad Max: Fury Road bisa menjadi mercusuar film action kedepannya karena ide-ide yang ada disini berhasil membuat film ini penuh aksi, penuh kesadisan, tapi masih ada rasa humor meringis didalamnya, dan karakter utama di film ini adalah seorang wanita, Furiosa, bukan Max walaupun memang titlenya pake nama dia. Selangkah lebih maju dalam gender equality in a Hollywood movie!

Gak perlu mobil mulus buat diledakin, apa itu pesawat untuk melancarkan rudal, gak ada yang namanya unlimited ammo. Untuk film bertema post-apocalyptic, ini film action paling nyata yang pernah dibuat. Setiap ledakan, tembakan, pukulan, dan tusukan pasti ada luka yang nyata. Apapun bisa terjadi di film ini, siapapun bisa terluka, itulah yang membuat Mad Max menegangkan.
Karakter-karakter sampingan seperti para Polecats, War Boys, dan Sang Gitaris Edan selain keren banget stuntnya juga bisa terlihat bahwa semua karakter yang ada dilayar mempunyai cerita kehidupan masing-masing.

Gak ada satupun scene seksual di film ini walaupun dipenuhi wanita-wanita cantik. Dimana film action lain sering memberi aura seksualitas dengan closeup ke paha atau dada wanita, Mad Max: Fury Road tidak memerlukan dan tidak memakai cara itu. Bahkan di scene pertama kalinya kita bertemu dengan kelima istri Immortan Joe, dimana mereka semua hanya memakai pakaian seadanya, directing Miller tidak memberikan mereka aura seksualitas sedikitpun.
Wanita di film ini tidak dijadikan sebagai objek seksual, dan mereka semua mempunyai tujuan yang jelas untuk dirinya masing-masing, bukan hanya cewek-cewek tempelan untuk pemanis scene tembak-tembakan.

Imperator Furiosa mempunyai peran yang lebih dibanding Max, tapi bukan berarti Furiosa tidak membutuhkan Max. Furiosa butuh Max, dan Max juga butuh Furiosa. Itu pesan yang bisa didapat dari film ini, bahwa iya ini film feminis, tapi kalian harus tau bahwa feminis itu bukan berarti wanita merajalela dan tidak membutuhkan laki-laki, feminis itu tentang kesetaraan antara pria dan wanita. Gak ada yang lebih tinggi ataupun rendah.

Hope, itu satu kata yang diulang-ulang menjelang akhir film. Film ini sendiri juga bisa dibilang sebagai sebuah harapan untuk masa depan perfilman, khususnya perfilman di Hollywood.

Live band dibelakang truk kayak dangdut keliling, Gitar listrik yang mengeluarkan api, Pimp My Ride versi jauh lebih gembel, Tonjolan-tonjolan badan yang menandakan hubungan semua karakter, and an overall well-staged directing, Mad Max: Fury Road harus ditonton untuk diketahui kehebatannya.

Movie Rate: 9/10

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s